Pengalaman Belajar Pemrograman di Bootcamp Hacktiv8 Saat Pandemi

Halo! Perkenalkan nama saya Bima Nathanael asal Tangerang Selatan. Saya adalah alumni Hacktiv8 dari batch 44, Rapid Fox. Di sini, saya akan menceritakan pengalaman saya selama mengikuti pelatihan pemrograman di bootcamp Hacktiv8. Sebelumnya saya kuliah di salah satu universitas di bilangan Jakarta Selatan mengambil jurusan IT dan telah bekerja sebagai IT Support selama 2,5 tahun. Namun, karena profesi yang saya jalani bukan karir impian saya, akhirnya saya memutuskan untuk resign dan masuk Hacktiv8 untuk mewujudkan karir saya sebagai seorang programmer.

Awalnya saya tahu bootcamp Hacktiv8 dari teman saya yang saudaranya merupakan alumni program Full Stack JavaScript. Dia memberitahu saya kalau belajar di bootcamp sangat efektif, mendapat banyak ilmu pemrograman, dan bisa menjadi Full Stack Developer dalam 12 minggu plus dicarikan kerja. Mendengar semua itu, tentu saya tertarik untuk belajar di bootcamp. Namun, saya juga diingatkan kalau bootcamp bukan kursus, tapi pelatihan intensif yang membutuhkan komitmen waktu, energi, serta selalu fokus untuk mengikuti seluruh kegiatannya. Meski begitu, itu tidak membuat saya gentar. Saya hanya terkejut begitu mendengar biaya pendidikan di Hacktiv8, yaitu sebesar Rp 40 juta. Untungnya Hacktiv8 memiliki opsi pembayaran dengan Income Share Agreement (ISA) atau sistem bagi hasil yang memungkinan saya dapat membayar setelah lulus dan mendapat pekerjaan. Menurut saya program ISA dapat menjamin keraguan akan kualitas dan skill yang akan didapatkan setelah lulus dari Hacktiv8. Karena itulah saya mulai cari tahu tentang coding seperti JavaScript dengan melihat tutorial di YouTube dan belajar di platform pembelajaran online sebelum daftar di Hacktiv8. Tujuannya adalah agar saya tidak kaget dan jadi suka belajar coding. Tapi ternyata tidak semudah yang saya bayangkan hingga menyurutkan niat saya untuk masuk Hacktiv8. Namun, teman saya mengatakan, “kamu akan suka kalau sudah ngerti Bim.” Seketika kata-kata itu membulatkan tekad saya untuk terus maju hingga akhirnya saya daftar dan lolos seleksi setelah mengikuti tes logika dan bahasa Inggris dasar.

Pengalaman Belajar Remote

Saya masuk Hacktiv8 pada bulan Mei 2020. Pada waktu itu harapan saya bisa belajar secara tatap muka agar bisa dapat vibes-nya dan bertemu teman-teman baru. Namun, masa pandemi telah mengubah segalanya termasuk aktivitas belajar dari tatap muka menjadi remote atau online. Saya pikir itu akan menjadi kendala buat saya, tapi ternyata Hacktiv8 menyediakan fasilitas belajar online terbaik melalui Zoom, Discord, dengan instruktur yang selalu standby, bahkan di luar jam belajar sekalipun dan cepat merespon apabila saya mendapat kesulitan. Terlebih belajar remote tidak harus memakan waktu di perjalanan untuk ke kampus. Di fase 1, 2, dan 3 ada pembelajaran yang mengharuskan saya membentuk tim projek yang terdiri dari dua sampai empat orang. Di situ saya merasakan kerja kelompok secara online bisa berjalan dengan efektif. Begitu juga yang saya rasakan saat ujian online, saat livecode saya harus ngoding sambil share screen dan open cam. Sepanjang livecode di fase 3, para siswa wajib untuk menyalakan kameranya agar mudah dipantau oleh instruktur sehingga tidak membuat perbedaan yang signifikan dengan belajar tatap muka.

Kesulitan mulai saya alami waktu di fase 2, karena di sini saya benar-benar diforsir untuk belajar Full Stack, yaitu membuat program dari awal sampai akhir. Untungnya siswa diberikan fasilitas 1-on-1 mentoring dengan instruktur untuk mendapat solusi dari kesulitan yang mereka alami dalam pembelajaran. Saya menggunakan kesempatan ini untuk konsultasi seputar teknik dan best practice dalam membuat aplikasi. Tidak hanya memberikan solusi, instruktur Hacktiv8 juga kerap berbagi pengalamannya selama berkarir di bidang IT. Selain itu, saya juga merasa terbantu dengan adanya Engineering Empathy yang merupakan kelas rutin dengan topik pengembangan diri dan konsultasi pribadi dengan konselor. Di sesi ini saya mendapat materi tentang step-step yang harus dilakukan untuk menuju kesuksesan yang sampai saat ini saya terapkan dalam karir saya. Materi growth mindset yang diberikan juga mengubah pola pikir saya untuk bisa menerima kesalahan dan kritik serta melihat kegagalan sebagai pembelajaran. Karena kalau cuma bisa ngoding tapi tidak bisa berpikir secara jernih akan kesulitan untuk bisa eksis di dunia kerja.

Keuntungan Belajar di Hacktiv8

Pada bulan Agustus 2020, akhirnya saya lulus dari Hacktiv8 dengan menyandang predikat ‘Honor Graduates’ atau lulusan terbaik dari batch 44. Benar apa kata teman saya, saya akan suka dengan pemrograman kalau sudah mengerti dan itu terbukti saya sangat menikmati selama mengikuti pelatihan di Hacktiv8. Sesuai ekspektasi, setelah lulus saya mendapat ilmu yang sesuai dengan kebutuhan industri saat ini sehingga tidak butuh waktu lama bagi saya untuk mendapat pekerjaan baru. Sekarang saya bekerja sebagai Full Stack Developer di ATI Business Group yang merupakan salah satu perusahaan hiring partner Hacktiv8. Gaji yang saya dapatkan juga sesuai dengan yang diimingi-imingi Hacktiv8, sehingga saya bisa mulai membayar biaya pendidikan dengan bagi hasil sesuai yang telah disepakati. Setelah berhasil menjadi programmer tentu petualangan saya tidak akan berhenti sampai di sini. Saya punya target untuk membangun perusahaan startup sendiri atau bekerja di Google suatu hari nanti. Bagi kamu yang ingin berkarir sebagai programmer, jangan ragu untuk belajar di bootcamp. Hacktiv8 dapat membantu kamu untuk mendapat pekerjaan yang sustainable dengan skema pembayaran yang tentunya dapat meringankan masalah finansial dalam pendidikan.

Share this article: Link copied to clipboard!

You might also like...

Pendidikan Berkualitas Kini Terbuka Untuk Semua

Fungsi JavaScript Dalam Pengembangan Website

5 Final Projek Game Lulusan Hacktiv8