Kenapa Edukasi Yang Bagus itu Tidak Murah Harganya

education

Kenapa Edukasi Yang Bagus itu Tidak Murah Harganya

Paradigma Bisnis Publishing VS Paradigma Bisnis Edukasi

Dalam dunia produksi konten, ada dua paradigma bisnis industri konten: paradigma penerbit atau istilah kerennya publishing dan paradigma edukasi. Keduanya memiliki pasar dan ceruknya masing-masing. Akan tetapi ada yang menganggap keduanya adalah suatu hal yang sama dibawah payung edukasi. Meskipun mirip, kedua paradigma ini sebenarnya tidaklah sama. Artikel ini akan membahas tentang persamaan dan perbedaan keduanya.

Paradigma Bisnis Produksi Konten

Pernah membaca kisah tentang seorang bernama Nate Berkopec yang berhasil menjual course (buku dan video) yang berjudul The Complete Guide to Rails Performance? Di artikel ini dia berkisah bahwa dia berhasi menjual course tersebut sebanyak 500 copy dan mendapatkan keuntungan sebesar $70,714.20. Tujuh puluh ribu dollar, man! Siapa coba yang tidak terinspirasi dan tertarik mencoba.

Banyak lagi cerita sukses dari para produser konten baik itu buku, buku elektronik, dan video course yang berhasil membuat kita berdecak kagum.
Istilah information product atau produk informasi biasanya berkaitan dengan konten edukasi seperti buku, ebook, newsletter, blog, audio, video atau juga kombinasinya. Biasanya produk informasi ini dijual secara digital dan dijual via internet.

Distribusi Masif

Sisi positifnya harga dari sumber ilmu tersebut, baik itu buku, video course, blog, podcast dan lain sebagainya menjadi terjangkau. Bahkan tidak jarang dibagikan secara gratis untuk tujuan satu atau lain hal. Kenapa produk-produk informasi bisa murah atau terjangkau? Salah satu alasannya karena produk-produk informasi tersebut dapat didistribusikan secara masif.

Biaya produksi produk informasi seperti video, podcast, ataupun buku sebenarnya tidak murah. Akan tetapi karena dapat didistribusikan secara masif lintas daerah bahkan lintas negara, maka harganya dapat didistribusikan pula. Dosen saya pernah berkata: “Harganya memang murah, tapi faktor pengalinya yang banyak!”.

Hal ini juga didukung oleh perubahan kiblat yang terjadi di dunia digital pada umumnya. Kalau dulu kita menjual aplikasi atau game dengan harga ratusan ribu rupiah, saat ini sebuah game premium dapat kita ‘tebus’ dengan harga sepulu ribuan saja!

Dampak Terhadap Kehidupan

Namun produk informasi ini juga memiliki kekurangan dari sisi pembeli. Seseorang membeli produk informasi ataupun mengikuti kegiatan workshop dan aneka sajian edukasi lainnya adalah bertujuan untuk meningkatkan skill dan kemampuannya. Dampak atau impact yang didapat ketika kita membeli produk informasi hasilnya beragam. Ada yang berhasil, tentu. Akan tetapi tidak sedikit yang tidak berdampak apa-apa terhadap kehidupannya. Semua tergantung si pembeli itu sendiri.

Ketika seseorang membeli sebuah produk informasi seperti buku, tanggung jawab si penerbit dan author hanya sampai disitu. Mau bukunya dibaca, ataupun tidak, itu urusan si pemilik buku. Apakah bukunya dijadikan ganjalan pintu atau tatakan monitor juga tidak ada yang melarang. Tidak ada kewajiban dari pihak penulis ataupun penerbit untuk memastikan bahwa impact terhadap perubahan hidup seseorang itu sesuai ekspektasinya. Tanggungjawab apakah ia sukses ataupun tidak hanya tergantung kepada si pembeli saja dalam hal ini.

PHOTO_20180215_095708-1

Sekarang mari kita lihat sisi yang lain, yaitu bisnis edukasi.

Semoga artikel ini dapat membantu kamu yang bertanya-tanya kenapa edukasi seperti bootcamp kok harganya tidak murah jika dibandingkan alternatif lain seperti buku, atau online course.

Paradigma Bisnis Edukasi

Coding bootcamp sedang menjamur, baik diluar maupun didalam negeri. Keinginan seseorang untuk mentransformasi hidupnya dengan cepat menjadi salah satu alasan yang sering terdengar mengapa ia memilih mengikuti bootcamp, kursus, dan sejenisnya. Padahal biaya dan waktu yang dikeluarkan tidaklah sedikit.

Apa yang menjadi pembeda antara bisnis produk informasi dengan bisnis edukasi seperti coding bootcamp? Dan kenapa perbedaan harganya cukup jomplang?

Biaya Operasional Yang Tinggi

Yang pasti perbedaan terbesar adalah modal yang dibutuhkan untuk membangun dan menjalankan bisnis edukasi tidaklah kecil. Bayangkan, kita harus memiliki atau menyewa tempat, memiliki lab komputer yang mumpuni, karyawan untuk segala hal dan yang tak kalah pentingya, adalah merekrut instruktur atau tenaga pengajar.

DSC00890

Bisnis Edukasi Bertanggungjawab Terhadap Hasil

Berbeda dengan produk informasi, bisnis edukasi ikut serta bertanggungjawab dalam memberikan dampak kepada kehidupan si pembeli. Dengan kata lain, tanggung jawab dibebankan kepada dua pihak: seorang yang mau belajar, dan pihak penyedia edukasi tersebut. Tentu si siswa yang ingin belajar harus punya niat dan motivasi untuk mengejar mimpinya (apapun itu), bangun pagi, datang tepat waktu dan belajar dengan sepenuh hati. Tapi di lain sisi, ada pihak penyedia edukasi yang juga mempunyai tanggungjawab untuk memastikan siswa sukses melewati berbagai rintangan pelajaran dengan memberikan rambu-rambu, mengingatkan, mengarahkan hingga siswa dapat belajar dengan baik. Itulah sebabnya universitas atau bahkan sekolah biayanya jauh lebih mahal dari buku atau online course. Mereka harus membayar sewa gedung, operasional, mengurus akreditasi dan yang terpenting, PENGAJAR!

Contoh yang cukup jelas misalnya, untuk menjadi seorang dokter dibutuhkan biaya dan waktu studi yang panjang dan lama. Untuk menjadi dokter kita HARUS kuliah dan kerja praktek. Tidak bisa semata hanya dengan membeli beberapa buku kedokteran, serta-merta kemudian kita menjadi dokter. Tentu, buku tersebut sangat berguna dan ilmunya sangat banyak yang bisa kita dapatkan, tapi juga kita tentu tidak bisa membuka praktek dokter umum setelah membaca buku-buku itu, kan?!

Kesimpulan

Cara dan media belajar saat ini sudah begitu banyak. Baik itu yang berupa produk informasi seperti online course, buku, video tutorial, artikel blog dan lain sebagainya hingga lembaga kursus, bootcamp, sekolah tinggi hingga kampus. Kembali lagi ke diri kita masing-masing mau memilih yang mana yang sesuai dengan keinginan, kemampuan dan cara belajar kita.

Apabila kamu adalah seorang self learner dan tidak butuh motivasi eksternal, silakan belajar sendiri dengan buku, online course dan lain sebagainya. Namun apabila kamu butuh bantuan untuk memotivasi, menjaga kamu agar tetap di jalur yang diinginkan serta dikelilingi oleh orang-orang yang sama-sama ingin sukses, maka pilihan seperti bootcamp, kursus ataupun kuliah bisa menjadi pilihan. Selamat belajar!

Riza Fahmi

Riza Fahmi

Curriculum Director, Co-Founder Hacktiv8